Senin, 01 Februari 2016

Bacaan: Roma 8:31-39

Bacaan Setahun: Imamat 4-6

Nats: ... tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8:39)

Never Walk Alone

Salah satu klub sepakbola terkenal dari Inggris, Liverpool, memiliki slogan yang berbunyi: "You will never walk alone". Tidak jelas alasan pemilihan slogan itu. Yang pasti, slogan ini punya makna yang luar biasa. Slogan ini seakan memberikan kekuatan, semangat, dan kepastian bahwa seberat apa pun beban yang dihadapi, sekuat apa pun badai yang dilalui, sesusah apa pun persoalan yang mesti diselesaikan, tidak ada seorang pun yang akan berjalan sendiri sebab ada orang lain yang akan menyertainya.
Hidup yang kita jalani saat ini bukanlah hidup yang mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi, persoalan yang harus diselesaikan, pergumulan yang harus dijalani, dan pencobaan yang harus dimenangkan. Tentu saja, hidup ini juga tidak berwarna kelam terus. Ada juga kesempatan yang dapat diraih, peluang yang dapat diambil, kegembiraan dan kesenangan yang dapat dinikmati, dan anugerah yang patut disyukuri. Hanya saja, ketika kita harus menghadapi kekelaman hidup, kadang-kadang kita merasa sendiri. Orang lain menjauh, bahkan keluarga sendiri tidak peduli.
Firman Tuhan memberi kita kekuatan dengan menegaskan bahwa tidak ada satu hal pun di dalam dunia ini yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Ini artinya, apa pun yang sedang kita hadapi sekarang, Tuhan Yesus Kristus selalu menyertai kita. Dia memberikan kekuatan dan kelegaan, kelepasan dan kedamaian. Oleh karena itu, bersandarlah selalu kepada-Nya. --Adama Sihite/Renungan Harian
* * *
Bersama dengan Kristus,
kita tidak akan pernah lagi berjalan seorang diri.





SABAR MENANTI WAKTU TUHAN TIBA


Saudaraku, satu hal yang harus terus kita ingat dan percaya bahwa, Allah tidak lalai menepati janji-Nya, dimana Ia akan datang kembali dan membawa orang-orang percaya yang hidup sungguh-sungguh mengasihi Dia, ke tempat dimana Ia berada, dan sebagai orang percaya kita tahu kalau tempat dimana Allah berada itu adalah, sorga yang kekal.
Saya katakan kita harus ingat dan percaya, sebab yang berjanji bukan manusia, tetapi yang berjanji adalah Allah sendiri di dalam Tuhan Yesus Kristus, bahwa ia akan datang kembali untuk membawa kita semua yang percaya kepada-Nya ke sorga.
Mari kita lihat apa yang dikatakan Tuhan Yesus, seperti yang ditulis di dalam;

Yohanes 14:1 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. 14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. 14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. 14:4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.”

Dari kebenaran ini kita tahu bahwa di dalam Tuhan, kita memiliki pengharapan, yaitu saat kita sungguh-sungguh percaya kepada Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus, kita pasti akan diselamatkan di dalam Dia. Itulah kenapa firman Tuhan katakan “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.”
Jadi dalam segala keadaan hidup yang kita hadapi saat ini, kita tidak perlu gelisah, apalagi takut. Tuhan katakan jangalah gelisah hatimu, karena Ia tahu benar bahwa orang yang gelisah hatinya pasti karena ada ketakutan di dalam dirinya.
Janji keselamatan itu telah kita terima, dimana Tuhan katakan, “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” artinya kalau saat ini, Tuhan belum juga datang untuk menjemput kita sebagai orang percya, buka berarti Tuhan tidak menepati janji-Nya. Sebab janji Tuhan itu adalah “ya dan Amin” artinya pasti di genapi.
Persoalannya adalah, selama kita menanti-nantikan Tuhan, kita harus tetap menjaga hati dan pikiran kita, bahkan seluruh gerak hidup kita agar tetap ditemukan layak dan berkenan di hadapan Tuhan.



Sabar Menanti Waktu Tuhan Tiba
 Renungan Minggu : Sabar Menanti Waktu Tuhan Tiba | Renunganhariini.com

Kenapa saya katakan, kita harus tetap menjaga hati dan pikiran kita?.
Sebab, saat ini kita masih hidup di dunia, dimana kuasa kegelapan akan berjuang untuk mengisi hati dan pikiran kita dengan berbagai keinginan-keinginan yang terlihat begitu menyenangkan untuk dinikmati saat ini.
Itulah yang membuat, saat ini ada begitu banyak orang percaya pada akhirnya tergoda dengan apa yang dunia tawarkan, sehingga fokus hidup mereka telah ditujukan kepada tawaran dunia yang bisa mereka lihat dengan mata jasmani dan yang bisa dinikmati saat ini. Dan hal itulah yang membuat fokus hidup mereka untuk tetap menanti-nantikan Tuhan menjadi sirnah.
Saudaraku, kita harus tetap menyadari bahwa selama kita masih hidup di dunia ini, persoalan akan tetap ada, dan bahkan tidak pernah berhenti. Terkadang persoalan-persoalan hidup yang kita hadapi akan membuat kita seolah-olah tidak mampu untuk bertahan lagi. Namun apapun yang terjadi, kita harus tetap ingat bahwa kita adalah orang-orang yang punya pengharapan di dalam Kristus. Itulah kenapa firman Tuhan katakan di dalam;
Roma 12 :12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!
Dari kebenaran ini, ada tiga hal penting yang perlu kita ingat, dan itu harus kita lakukan selama kita masih hidup di dunia ini, selama Tuhan belum datang, kita harus tetap kuat untuk bertahan.
  • Bersukacitalah Dalam Pengharapan

Kalau dikatakan, bersukacitalah dalam pengharapan, artinya, di dalam segala keadaan hidup, kita harus tetap melihat kepada pengharapan kita kepada Tuhan. Dan pengharapan kepada Tuhan itu tidak akan pernah menjadi sia-sia.
Jadi sekalipun keadaan hidup ini selalu membuat kita merasa tidak mampu, kita tahu bahwa keadaan yang sedang kita alami, tidak akan selamanya seperti itu, karena kita punya pengharapan.
Kalau kita tahu bahwa kita punya pengharapan di dalam Kristus Yesus Tuhan, maka kita harus tetap menjaga seluruh hidup kita, supaya tetap suci dan kudus dihadapan Tuhan, supaya kita tetap berkenan kepada-Nya. Firman Tuhan katakan di dalam;


I Yohanes 3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.
Pengharapan di dalam Tuhan itulah yang membuat kita tetap bisa bersukacita. Sebab kita tahu bahwa suatu saat nanti kita akan tinggal bersama-sama dengan Tuhan di dalam Kerajaan-Nya, dan itu keindahannya tidak dapat dibandingkan dengan apapun.
  • Sabar Dalam Kesesakan

Ingat, sebelumnya saya sudah katakan bahwa, selama kita masih hidup di dunia ini, persoalan akan tetap ada, masalah akan tetap ada, tantangan akan tetap ada, dan itu semua sering membuat, kita seperti tidak mampu lagi lagi untuk bertahan hidup. Namun ingat bahwa semua itu hanya penderitaan biasa. Firman Tuhan katakan;
I Korintus 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Jadi semua yang terjadi dalam hidup kita, percayalah bahwa semuanya itu dapat kita tanggung di dalam Tuhan yang akan memberi kekuatan kepada kita.
Filipi 4 :12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
Jadi sebagai orang percaya, kita harus tetap sabar, sekalipun kita terjepit di dalam kesesakan, tetapi kita tahu bahwa Tuhan akan tetap memberikan kekuatan kepada kita untuk menghadapi semuanya, karena kita mengasihi Dia, sabar dan tetap percaya kepada-Nya.
  • Bertekunlah Dalam Doa

Dikatakan bertekunlah dalam doa. Ini yang seringkali kita gagal. Sebab kalau kita mau mengoreksi cara hidup kita, maka ada begitu banyak waktu hidup kita yang terbuang hanya untuk mengerjakan perkara-perkara yang sia-sia, sehingga kita hampir-hampir tidak memiliki waktu untuk berdoa.
Artinya kalau kita berdoa, itu hanya kita lakukan sebagai rutinitas saja sebagai orang kristen. Berdoa akan kita lakukan, biasanya kalau mau makan, mau tidur, mau berangkat kerja, atau pergi ke gereja. Hanya itu yang kita lakukan. Selebihnya lagi, kita berdoa, kalau kita ada dalam masalah, lalu berdoa minta pertolongan Tuhan supaya Tuhan selesaikan persoalan kita.
Sesungguhnya yang Tuhan mau bukan seperti itu. Bertekunlah dalam doa, artinya setiap saat kita harus bisa membangun persekutuan dengan Tuhan tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Itulah yang sering saya katakan, bahwa 24 jam waktu hidup kita harus semuanya untuk Tuhan. Sebab doa itu adalah bercakap-cakap dengan Allah.
Orang percaya yang mau bertekun di dalam doa, akan merasa begitu dekat dengan Tuhan, sehingga ia tidak akan takut menghadapi apapun yang akan terjadi di dalam hidupnya, karena ia tahu, setiap saat Tuhan ada bersama-sama dengannya dalam segala keadaan.
Orang yang mau bertekun di dalam doa, akan selalu percaya Tuhan ada di pihak dia. Artinya persoalan tidak akan membuat ia lemah, takut, kuatir, dan putus asa. Sebab ia sadar sungguh seperti yang firman Tuhan katakan;
Roma 8:31 Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?.
Jadi saat kita menanti-nantikan Tuhan, kita harus tetap bertekun di dalam doa, dan selalu mau membangun persekutuan dengan Tuhan di dalam doa. Untuk bisa melakukannya, maka kita harus belajar untuk menguasai diri dalam seluruh gerak, pikiran, perasaan, hati kita, keinginan kita, perkataan kita, bahkan seluruh tingkah laku kita.
Kita harus berjuang untuk hal yang satu ini, karena tanda-tanda zaman ini sudah semakin nyata, dan kita tahu bahwa waktu-Nya sudah semakin dekat. Itulah kenapa firman Tuhan katakan;
I Petrus 4:7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.
Kalau kita tidak berjuang untuk menguasai diri kita, maka kita akan terbawa oleh arus dunia, dan itulah yang akan menyeret kita ke dalam kebinasaan. Oleh sebab itu, sekali lagi kita harus tetap ingat akan hal ini;
  1. Apapun yang terjadi, terjadi, kita harus tetap bersukacita dalam pengharapan.
  2. Apapun yang terjadi, kita harus tetap sabar, sekalipun ada dalam kesesakan.
  3. Apapun yang terjadi, kita harus tetap bertekun dalam doa yang tiada putus-putusnya.
Kiranya kebenaran ini akan menguatkan kita semua dan membuat kita semakin kuat dan tetap sabar menanti waktu Tuhan tiba. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.





 

Senin, 25 Januari 2016



Jangan Takut & Jangan Kuatir


“Janganlah kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4:6

Sumber: Google
Pernahkah Anda merasa ketakutan ketika harus melakukan sesuatu, tapi nyatanya, ketika hal itu berlalu Anda menyadari bahwa segala sesuatunya tidak sebegitu menakutkan seperti yang Anda bayangkan sebelumnya? Mungkin Anda merasa kuatir untuk mengambil pekerjaan baru, atau mungkin merasa takut dan kuatir ketika harus kembali aktif di sekolah dan kampus, atau mungkin Anda merasa takut untuk mengejar cita-cita dan keinginan hati Anda.
*courtesy of PelitaHidup.com
Kita semua pernah mengalami ketakutan semacam itu. Mungkin ada kalanya kita merasa sangat takut untuk melakukan sesuatu atau takut terhadap sesuatu sehingga kita harus meyakinkan diri kita sendiri untuk setiap langkah yang akan kita lewati dalam menghadapinya. Kita berpikir,” Baiklah, jika aku dapat melewati yang satu ini, maka aku akan dapat melewati rintangan selanjutnya, dan akhirnya aku mampu menyelesaikan semuanya. Ya, aku harus melakukannya dan berhasil!” Pada akhirnya, ketika kita melewati semuanya itu kita sadar bahwa ternyata proses yang kita lalui merupakan sebuah pengalaman yang seru; sayangnya, kita tidak dapat menikmati pengalaman seru tersebut karena kita membiarkan ketakutan dan kekuatiran menguasai diri kita dan membuat kita kehilangan saat demi saat dari pengalaman hidup yang berharga tersebut.
Tahun 2016 ini, kita percaya bahwa Allah berkata kepada kita, “Inilah waktumu, inilah saatmu! Nikmati semua berkat yang telah Aku sediakan bagimu! Aku bersamamu dan Aku telah memperlengkapi engkau seutuhnya.” Kita perlu meneladani Abraham dan Sara. Allah berjanji pada mereka bahwa mereka akan memiliki anak. Ia berjanji bahwa Abraham akan menjadi bapa bagi segala bangsa dan seluruh dunia akan diberkati melalui dia. Tetapi pada waktu janji itu diberikan, Sara sudah berumur 90 tahun dan Abraham sendiri berumur 100 tahun. Sebagai manusia, pasti kita semua berpikir bahwa ada kalanya Abraham dan Sara merasa kuatir bagaimana janji itu akan digenapi. Mereka bahkan mencoba menggenapinya dengan cara mereka sendiri. Namun demikian, kitab Roma menyebutkan bahwa iman dan percaya Abraham dan Sara kepada janji Allah “diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.”
Mungkin dapat kiat bayangkan Abraham dan Sara melihat keadaan mereka, kemudian mereka memandang kepada Allah, dan ketika mereka memusatkan perhatian kepada Allah, mereka mengubah rasa kuatir yang ada menjadi pujian dan penyembahan kepada Allah. Mereka berkata, “Tuhan, Engkau telah berjanji kepada kami. Kami tahu bahwa Engkau Allah yang Setia. Engkau yang memperkatakan janji itu, Engkau juga yang akan menggenapinya!” Dan pada waktuNya, Sara memang mengandung dan kemudian melahirkan seorang anak laki-laki bernama Ishak.


Tahun 2016 ini jangan biarkan rasa kuatir menguasai hidup Anda dan saya. Bukankah lebih baik mengubah rasa kuatiir kita menjadi pujan dan penyembahan kepada Allah? Arahkan perhatian kita kepadaNya, renungkan firman dan janji-janjiNya. Berikan pujian dan ucapan syukur kepadaNya karena kebaikan dan kesetiaanNya. Biarkan Allah memenuhi hidup kita dengan sukacitaNya. Ketika kita berserah penuh kepadaNya, sama seperti Abrham dan Sara, maka Ia akan memperlengkapi kita untuk menggenapi rencanaNya atas hidup kita masing-masing!

*courtesy of PelitaHidup.com
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan.” Yesaya 41: 10

 

 

Langkah Pertama Agar Mujizat Terjadi




Sumber: Google
“….Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23b)
Bacaan: Markus 6:34-37
*courtesy of PelitaHidup.com
 Jika Anda ingin Allah melakukan mujizat dalam hidup Anda, maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mengakui bahwa Anda memiliki masalah yang belum terpecahkan.
Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulaimalam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.” Tetapi jawab-Nya: “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya: “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” (Markus 6:34-37)
Dari bacaan di atas kita belajar bahwa respon yang biasa kita berikan terhadap masalah yang sulit diselesaikan dalam hidup adalah: kita menangguhkan masalah tersebut, kita melempar tanggung jawab kita atas masalah tersebut dan kita merasa kuatir terhadap masalah tersebut.


Mari kita bahas ketiga respon tersebut secara lebih detil:
  • Menangguhkan Masalah
Kisah di atas terjadi pada waktu hari sudah mulai senja ketika pada akhirnya murid-murid Yesus menyampaikan masalah yang ada kepadaNya. Mereka telah sepanjang hari memikirkan berbagai cara menurut kemampuan dan kepandaian mereka bagaimana caranya memberi makan 5.000 orang dengan apa yang mereka miliki.
Ketika kita memiliki masalah yang tidak dapat kita selesaikan, kita cenderung untuk menangguhkan masalah tersebut. Kita menundanya. Kita berpura-pura bahwa masalah tersebut tidak ada. Kita mengalihkan pandangan dan perhatian kita kepada hal yang lain sehingga masalah tersebut tidak lagi kita pikirkan.
*courtesy of PelitaHidup.com
Adakah masalah yang sedang Anda hindari dalam pernikahan Anda? Adakah masalah keuangan yang sedang Anda tangguhkan dan tunda? Adakah masalah dengan kesehatan tubuh Anda yang tidak segera Anda tindak lanjuti? Menangguhkan masalah hanya akan memperburuk masalah yang ada.




MENDERITA SEBAGAI SAKSI KRISTUS


"Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu."  1 Petrus 4:16

Tak seorang pun manusia di dunia ini yang mau menderita dalam menjalani hidup.  Yang diinginkan dan diimpikan oleh semua orang adalah hidup berbahagia.

     Mengapa rasul Petrus juga menasihati agar setiap orang percaya atau pengikut Kristus atau orang Kristen tidak menjadi malu jika ia menderita?  Kata menderita yang dimaksudkan ayat nas adalah menderita karena nama Kristus.  Karena mempertahankan iman percayanya kepada Kristus seseorang rela dikucilkan oleh keluarga, dijauhi oleh teman dan sahabat, dan diperlakukan tidak adil oleh sesama;  itulah penderitaan.  "Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu."  (ayat 14).  Tetapi sebaliknya jika seseorang harus menderita karena melakukan perbuatan dosa atau melanggar hukum, itu yang seharusnya membuatnya malu.  Karena itu  "Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau."  (ayat 15).

     Setiap penderitaan selalu mendatangkan dukacita, tetapi firman Tuhan memperingatkan agar kita jangan menderita karena dosa, melainkan karena kebenaran.  Ada tertulis:  "Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,"  (2 Timotius 3:12).  Kata aniaya hampir selalu berkaitan dengan penderitaan.  Berbicara tentang aniaya umumnya pikiran kita langsung tertuju kepada penderitaan secara fisik karena siksaan.  Itu tidak salah!  Namun sebenarnya ada dua macam aniaya yang dialami oleh orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan:  pertama, penderitaan karena dianiaya secara fisik seperti yang dialami oleh para martir, bahkan mereka harus rela kehilangan nyawanya.  Contoh:  Stefanus yang mati dilempari batu karena imannya kepada Kristus  (baca  Kisah 7:54-60);  Kedua, penderitaan menolak kenikmatan dosa.  Saat seseorang bergumul dengan nafsu dosa di dalam tubuhnya atau saat menolak tawaran kenikmatan dosa, saat itulah ia menangis dan berdukacita.

Namun  "...barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa."  1 Petrus 4:1




RONA-RONA KEHIDUPAN



Baca:  Mazmur 66:1-20

"Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak."  Mazmur 66:10

Di dunia ini tidak ada sesuatu yang indah dan berharga mahal, yang dihasilkan secara kebetulan, atau muncul secara tiba-tiba, tetapi semuanya melalui sebuah proses.

     Begitu pula kehidupan rohani, jika kita rindu menjadi  'perabot'  Tuhan untuk maksud yang mulia, bukan yang kurang mulia atau biasa, tentu ada syaratnya:  "...jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak."  (2 Timotius 2:22-23a).  Pula kita harus mau menjalani proses yang Tuhan kehendaki.  Oleh karena itu milikilah sikap hati yang benar atau respons yang positif terhadap situasi-situasi yang terjadi dalam kehidupan ini.  Mungkin kita harus melewati ujian, penderitaan, masalah, kesukaran, dan berbagai macam pergumulan yang berat;  bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita atau berlaku kejam kepada kita, namun kita harus percaya bahwa  "...Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."  (Roma 8:28).  Tuhan memakai situasi-situasi tersebut sebagai sarana untuk membentuk memurnikan dan mendewasakan kita sampai Ia membawa kita pada sebuah kehidupan yang indah di pemandangan-Nya.

     Kehidupan kita ini bisa digambarakan seperti menu makanan yang terasa lezat, nikmat dan berkelas apabila memiliki campuran berbagai rasa yang telah dioleh dan diproses melalui dapur api oleh seorang chef  (juru masak):  terkadang ada suka, ada duka, ada manis, ada pahit, ada kesuksesan dan terkadang kegagalan.  Itulah rona-rona sebuah kehidupan!  Jika kita memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan selaku Chef yang sangat ahli dalam meramu resep, maka seberat apa pun proses yang harus kita jalani kita takkan pernah memberontak dan lari.  Memang seketika waktu kita akan merasakan betapa pedih, perih, sakit dan dukacita yang dalam, namun Tuhan pasti akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya  (baca  Pengkhotbah 3:11).

"...seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  Ayub 23:10