Jangan Takut & Jangan Kuatir
Pernahkah Anda merasa ketakutan ketika harus melakukan sesuatu, tapi nyatanya, ketika hal itu berlalu Anda menyadari bahwa segala sesuatunya tidak sebegitu menakutkan seperti yang Anda bayangkan sebelumnya? Mungkin Anda merasa kuatir untuk mengambil pekerjaan baru, atau mungkin merasa takut dan kuatir ketika harus kembali aktif di sekolah dan kampus, atau mungkin Anda merasa takut untuk mengejar cita-cita dan keinginan hati Anda.
*courtesy of PelitaHidup.com
Kita semua pernah mengalami ketakutan semacam itu. Mungkin ada kalanya kita merasa sangat takut untuk melakukan sesuatu atau takut terhadap sesuatu sehingga kita harus meyakinkan diri kita sendiri untuk setiap langkah yang akan kita lewati dalam menghadapinya. Kita berpikir,” Baiklah, jika aku dapat melewati yang satu ini, maka aku akan dapat melewati rintangan selanjutnya, dan akhirnya aku mampu menyelesaikan semuanya. Ya, aku harus melakukannya dan berhasil!” Pada akhirnya, ketika kita melewati semuanya itu kita sadar bahwa ternyata proses yang kita lalui merupakan sebuah pengalaman yang seru; sayangnya, kita tidak dapat menikmati pengalaman seru tersebut karena kita membiarkan ketakutan dan kekuatiran menguasai diri kita dan membuat kita kehilangan saat demi saat dari pengalaman hidup yang berharga tersebut.
Tahun 2016 ini, kita percaya bahwa Allah berkata kepada kita, “Inilah waktumu, inilah saatmu! Nikmati semua berkat yang telah Aku sediakan bagimu! Aku bersamamu dan Aku telah memperlengkapi engkau seutuhnya.” Kita perlu meneladani Abraham dan Sara. Allah berjanji pada mereka bahwa mereka akan memiliki anak. Ia berjanji bahwa Abraham akan menjadi bapa bagi segala bangsa dan seluruh dunia akan diberkati melalui dia. Tetapi pada waktu janji itu diberikan, Sara sudah berumur 90 tahun dan Abraham sendiri berumur 100 tahun. Sebagai manusia, pasti kita semua berpikir bahwa ada kalanya Abraham dan Sara merasa kuatir bagaimana janji itu akan digenapi. Mereka bahkan mencoba menggenapinya dengan cara mereka sendiri. Namun demikian, kitab Roma menyebutkan bahwa iman dan percaya Abraham dan Sara kepada janji Allah “diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.”
Mungkin dapat kiat bayangkan Abraham dan Sara melihat keadaan mereka, kemudian mereka memandang kepada Allah, dan ketika mereka memusatkan perhatian kepada Allah, mereka mengubah rasa kuatir yang ada menjadi pujian dan penyembahan kepada Allah. Mereka berkata, “Tuhan, Engkau telah berjanji kepada kami. Kami tahu bahwa Engkau Allah yang Setia. Engkau yang memperkatakan janji itu, Engkau juga yang akan menggenapinya!” Dan pada waktuNya, Sara memang mengandung dan kemudian melahirkan seorang anak laki-laki bernama Ishak.
*courtesy of PelitaHidup.com
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan.” Yesaya 41: 10
Langkah Pertama Agar Mujizat Terjadi
Bacaan: Markus 6:34-37
*courtesy of PelitaHidup.com
Jika Anda ingin Allah melakukan mujizat dalam hidup Anda, maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mengakui bahwa Anda memiliki masalah yang belum terpecahkan.
“Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulaimalam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.” Tetapi jawab-Nya: “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya: “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” (Markus 6:34-37)
Dari bacaan di atas kita belajar bahwa respon yang biasa kita berikan terhadap masalah yang sulit diselesaikan dalam hidup adalah: kita menangguhkan masalah tersebut, kita melempar tanggung jawab kita atas masalah tersebut dan kita merasa kuatir terhadap masalah tersebut.
- Menangguhkan Masalah
Ketika kita memiliki masalah yang tidak dapat kita selesaikan, kita cenderung untuk menangguhkan masalah tersebut. Kita menundanya. Kita berpura-pura bahwa masalah tersebut tidak ada. Kita mengalihkan pandangan dan perhatian kita kepada hal yang lain sehingga masalah tersebut tidak lagi kita pikirkan.
*courtesy of PelitaHidup.com
Adakah masalah yang sedang Anda hindari dalam pernikahan Anda? Adakah masalah keuangan yang sedang Anda tangguhkan dan tunda? Adakah masalah dengan kesehatan tubuh Anda yang tidak segera Anda tindak lanjuti? Menangguhkan masalah hanya akan memperburuk masalah yang ada.
MENDERITA SEBAGAI SAKSI KRISTUS
"Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu." 1 Petrus 4:16
Tak seorang pun manusia di dunia ini yang mau menderita dalam menjalani hidup. Yang diinginkan dan diimpikan oleh semua orang adalah hidup berbahagia.
Mengapa rasul Petrus juga menasihati agar setiap orang percaya atau pengikut Kristus atau orang Kristen tidak menjadi malu jika ia menderita? Kata menderita yang dimaksudkan ayat nas adalah menderita karena nama Kristus. Karena mempertahankan iman percayanya kepada Kristus seseorang rela dikucilkan oleh keluarga, dijauhi oleh teman dan sahabat, dan diperlakukan tidak adil oleh sesama; itulah penderitaan. "Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu." (ayat 14). Tetapi sebaliknya jika seseorang harus menderita karena melakukan perbuatan dosa atau melanggar hukum, itu yang seharusnya membuatnya malu. Karena itu "Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau." (ayat 15).
Setiap penderitaan selalu mendatangkan dukacita, tetapi firman Tuhan memperingatkan agar kita jangan menderita karena dosa, melainkan karena kebenaran. Ada tertulis: "Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya," (2 Timotius 3:12). Kata aniaya hampir selalu berkaitan dengan penderitaan. Berbicara tentang aniaya umumnya pikiran kita langsung tertuju kepada penderitaan secara fisik karena siksaan. Itu tidak salah! Namun sebenarnya ada dua macam aniaya yang dialami oleh orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan: pertama, penderitaan karena dianiaya secara fisik seperti yang dialami oleh para martir, bahkan mereka harus rela kehilangan nyawanya. Contoh: Stefanus yang mati dilempari batu karena imannya kepada Kristus (baca Kisah 7:54-60); Kedua, penderitaan menolak kenikmatan dosa. Saat seseorang bergumul dengan nafsu dosa di dalam tubuhnya atau saat menolak tawaran kenikmatan dosa, saat itulah ia menangis dan berdukacita.
Namun "...barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa." 1 Petrus 4:1
RONA-RONA KEHIDUPAN
Baca: Mazmur 66:1-20
"Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak." Mazmur 66:10
Di dunia ini tidak ada sesuatu yang indah dan berharga mahal, yang dihasilkan secara kebetulan, atau muncul secara tiba-tiba, tetapi semuanya melalui sebuah proses.
Begitu pula kehidupan rohani, jika kita rindu menjadi 'perabot' Tuhan untuk maksud yang mulia, bukan yang kurang mulia atau biasa, tentu ada syaratnya: "...jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak." (2 Timotius 2:22-23a). Pula kita harus mau menjalani proses yang Tuhan kehendaki. Oleh karena itu milikilah sikap hati yang benar atau respons yang positif terhadap situasi-situasi yang terjadi dalam kehidupan ini. Mungkin kita harus melewati ujian, penderitaan, masalah, kesukaran, dan berbagai macam pergumulan yang berat; bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita atau berlaku kejam kepada kita, namun kita harus percaya bahwa "...Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28). Tuhan memakai situasi-situasi tersebut sebagai sarana untuk membentuk memurnikan dan mendewasakan kita sampai Ia membawa kita pada sebuah kehidupan yang indah di pemandangan-Nya.
Kehidupan kita ini bisa digambarakan seperti menu makanan yang terasa lezat, nikmat dan berkelas apabila memiliki campuran berbagai rasa yang telah dioleh dan diproses melalui dapur api oleh seorang chef (juru masak): terkadang ada suka, ada duka, ada manis, ada pahit, ada kesuksesan dan terkadang kegagalan. Itulah rona-rona sebuah kehidupan! Jika kita memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan selaku Chef yang sangat ahli dalam meramu resep, maka seberat apa pun proses yang harus kita jalani kita takkan pernah memberontak dan lari. Memang seketika waktu kita akan merasakan betapa pedih, perih, sakit dan dukacita yang dalam, namun Tuhan pasti akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (baca Pengkhotbah 3:11).
"...seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas." Ayub 23:10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar